Langsung ke konten utama

Kisah Nabi Ibrahim as - Menghancurkan Berhala

Kembali lagi dengan kisah islami menarik mengenai nabi. Kali ini kisahnya tentang nabi Ibrahim as yang memiliki putra-putri bagus yang pernah ada di dunia.

Nabi Ibrahim as lahir di Babilon, beliau masih keturunan dari Sam bin Nuh as. Nabi Inrahim as memiliki dua orang putera yang kelak keduanya juga menjadi seorang nabi, yaitu Ishaq as dan Ismail as.

Oleh karena itu, Nabi Ibrahim as menjadapt julukan bapaknya para nabi.

Kelahiran Nabi Ibrahim as


Pada zaman nabi Ibrahim as, negeri Babilon dipimpin oleh Raja Namrud, seorang raja yang sangat kejam, memerintahkan untuk membunuh semua bayi laki-laki yang lahir di negeri itu. Karena ada rasa khawatir akan dibunuh juga, orang tua Ibrahim as menyembunyikan bayi Ibrahim di dalam sebuah gua.

Dengan kekuasaaan Allah SWT, Ibrahim kecil dapat bertahan hidup dengan mengisap ujung jarinya sendiri yang bisa mengeluarkan air susu. Allahu Akbar.

Banyak Pertanyaan


Nabi Ibrahim as kemudian tumbuh menjadi anak yang berbeda dengan anak-anak lainnya. Di dalam pikirannya dipenuhi pertanyaan, mengapa kaumnya menyembah berhala padahal berhala itu buatan mereka sendiri.

Banyak sekali pertanyaan yang ada di dalam pikiran Nabi Ibrahim as.
Beliau mengamati bintang matahari dari terbit hingga terbenamnya, juga mengamati bintang dan bulan yang hanya muncul setiap malam saja.

Beliau juga memperhatikan kehidupan yang ada di sekitarnya, semuanya begitu teratur dan ia sangat yakin sekali pasti semuanya ada yang mengatur. Tentu saja bukan berhala-berhala itu yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Allahlah Dzat yang Dicari Nabi Ibrahim as


Siapakah yang Mengatur Alam ini ya???
Kemudian Nabi Ibrahim as meminta bukti kepada Allah SWT bahwa Dialah Dzat yang mengatur, serta yang menghidupkan dan mematikan semua yang hidup.

Doa Nabi Ibrahim as didengar Allah SWT.
Allah SWT kemudian menyuruh Nabi Ibrahim as membunuh beberapa ekor burubg yang berbeda dan mencincangnya. Daging burung tersebut lalu dicampur aduk menjadi satu dan diletakkan di sebuah bukit.

Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim as untuk memanggil burung-burung tersebut. Maka daging burung yang tercampur tadi ternyata berkumpul kembali sesuai dengan jenisnya, menyatu dalam bentuk seekor burung yang utuh seperti sedia kala. Burung-burung itu terbang mengampiri Nabi Ibrahim as.

Seketika itu juga Nabi Ibrahim as langsung terjatuh dan bersujud menyembah Allah SWT.



Raja Namrud dan Berhala-berhalanya


Ketika Raja Namrud sedang berburu, Nabi Ibrahim as menhancurkan berhala-berhala yang selama ini menjadi pujaan kaumnya. Kecuali satu buah berhala yang paling besar, di lehernya ia kalungkan kapak yang digunakan untuk menghancurkan berhala-berhala itu.

Setelah mengetahui berhala-berhala yang dipujanya hancur, Raja Namrud sangat marah. Ia memerintahkan untuk menangkap Nabi Ibrahim as karena ia yakin dialah pelakunya. Nabi Ibrahim as selalu melarang rskyat Babilonia memuja berhala.




"Hai Ibrahim, aku yakin bahwa kamulah yang menghancurkan berhala-berhala itu. Karena hanya kamu saja yang tidak senang kami memujanya, "tuduh raja Namrud.
"Jangan sembarang menuduh, Raja Namrud. Apakah engkau tidak berpikir kalau yang menghancurkan berhala-berhala kecilmu adalah berhala yang paling besar. Buktinya kapa ada padanya. Mungkin karena dia tidak mau ada saingannya, "bantah Nabi Ibrahim as.

Raja Namrud semakin marah karena merasa dipermainkan. Maka terjadilah perdebatan yang sangat hebat diantara keduanya.

"Mana mungkin berhala yang besar itu menghancurkan berhala yang kecil. Dia hanya batu dan tidak dapat berbuat apa-apa, "bantah Raja Namrud.
"Berarti kalian sadar kalau yang selama ini kalian sembah dan dipuja-puja hanyalah sebongkah batu dan tidak bisa berbuat apa-apa? Lalu apa yang kalian harapkan darinya? "sindir Nabi Ibrahim as.

Dibakar Hidup-hidup dan Serangan Nyamuk Ganas

Sebagian orang yang sadar, menyatakan ikut pada ajaran Nabi Ibrahim as. Raja Namrud merasa sangat malu dengan ucapan Nabi Ibrahim as tersebut.

Meskipun hatinya membenarkan ucapan Nabi Ibrahim as, tapi harga dirinya melarang untuk mengakui kebenaran tersebut. Ia malah memerintahkan prajuritnya untuk membakar hidup-hidup Nabi Ibrahim as.

Karena perlindungan Allah SWT, api tidak mampu membakar tubuh Nabi Ibrahim as.

Penduduk Babilonia semakin banyak yang menjadi pengikut Nabi Ibrahim as. Allah SWT kemudian memerintahkan Nabi Ibrahim as dan pengikutnya agar hijrah ke Palestina.

Penduduk Babilonia yang masih menyembah berhala diberi azab Allah SWT berupa nyamuk-nyamuk ganas yang menggigit mereka sampai mati tak tersisa.

Selesai.

Komentar

Postingan Populer

Kisah Al-Habib Muhammad Bin Salim bin Hafizh

Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Abdullah bin Abu Bakar bin 'Aydrus bin 'Umar bin 'Aydrus bin 'Umar bin Abu Bakar bin 'Aydrus bin Husein bin As-Syekh Al Kabir Al-Qutb As-Syahir Abu Bakar bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman As-segaf bin Syekh Muhammad Maula Ad-Dawilayh bin Syekh Ali Shohibud Dark bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam muhammad bin Sayyidina Ali bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib Marbat bin Sayyidina Al-Imam Kholi Qosam bin Sayyidina Alwi bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib As-Shouma’ah bin Sayyidina Al-Imam Alwi Shohib Saml bin Sayyidina Al-Imam Ubaidillah Shohibul Aradh bin Sayyidina Al-Imam Muhajir Ahmad bin Sayyidina Al-Imam Isa Ar-Rumi bin Sayyidina Al- Imam Muhammad An-Naqib bin Sayyidina Al-Imam Ali Al-Uraydhi bin Sayyidina Al-Imam Ja’far As-Shodiq bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin bi...

JULAIBIB RADHIYALLAHU ANHU (IA MEMILIH BERJIHAD DAN MERINDUKAN SYAHID)

“Sami’na wa`atha’na”, itulah sikap seorang mukmin ketika sampai kepadanya perintah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sikap ini sebagai bukti keimanannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sebagai bukti kecintaannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Memang demikianlah, menjadi keharusan bagi seseorang yang telah bersaksi Muhammad adalah utusan Allah untuk menerima segala yang telah menjadi keputusan Rasulullah. Tidak ada lagi pilihan bagi dirinya, kecuali harus tunduk dan patuh, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan kecuali dalam perintah tersebut mengandung banyak hikmah. Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang, kecuali dalam larangan itu terdapat bahaya besar. Sikap taat, tunduk dan patuh itu selalu menghiasi para sahabat Rasulullah yang merupakan satu generasi terdidik di bawah naungan cahaya Nubuwwah. Generasi yang dipuji oleh Allah dan yang terpilih untuk menemani, serta mendukung dakwah Rasulullah Shalla...

8 Pintu Surga Memanggil Abu Bakar

Setiap orang tahu, kehidupan dunia ini hanyalah sementara. Walaupun.. tidak setiap orang menyadarinya. Akhir hayat yang indah selalu jadi dambaan. Walaupun.. yang mendambakan kadang tidak mengusahakan. Dan kita semua menginginkan surge. Tahukah Anda bagaimana gambaran surga itu? Surga selalu jadi cerita indah. Penghuninya duduk-duduk di dipan bertahtakan emas. Bertelekan berpandangan dengan kekasih. Mereka dilayani anak-anak muda; membawa gelas, cerek, dan minuman dari sungai-sungainya. Buah-buahannya landai mendekat. Daging-daging jadi hidangan lezat untuk disantap. Kekasih mereka adalah bidadari yang terjaga. Bagaikan intan dan mutiara. Usia bidadari itu sebaya dan penuh cinta. Di dunia manusia lelah dengan pertengkaran dan keributan. Alangkah damainya surga, karena para penghuninya tidak pernah mendengar ucapan yang sia-sia. Tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa. Di surga, ada pohon bidara tak berduri. Dan pohon pisang yang buahnya tersusun rapi. Ada naungan yang terbentang lua...

Kisah Pohon Sahabi Sahabat Yang Menaungi Nabi Muhammad SAW

Sebuah pohon besar nan rimbun berdiri tegak di tengah hamparan gurun pasir di Yordania. Pohon ini bukanlah pohon biasa. Pohon ini dahulu menjadi saksi dan bukti kenabian Muhammad Saw. Di bawah pohon inilah dahulu Nabi Muhammad Saw. pernah berteduh dalam perjalanan niaganya ke Syam. Pohon itu dikenal dengan nama Pohon Sahabi. Pohon ini ditemukan kembali oleh Pangeran Ghazi bin Muhammad dari Ammen, Yordania. Pangeran asal Yordania ini menemukan kisah mengenai pohon rindang di tengah gurun itu setelah dirinya mempelajari beberapa catatan dan naskah kuno. Dalam naskah-naskah lama tersebut disebutkan ada sebuah pohon yang terletak di tengah-tengah gurun. Setelah dilakukan penelusuran, yang juga turut dihadiri oleh mufti agung Suriah bernama Syeikh Ahmad Hassoun, dipastikan bahwa pohon yang diceritakan itu tak lain adalah pohon Sahabi. Pohon ini berdiri kokoh sendirian di tengah padang pasir, dimana bahkan di sekelilingnya tak ditumbuhi rumput sedikit pun juga. Selain itu, keistimewaan lainn...

Istri Nabi Nuh Wanita Yang Durhaka

Istri Nabi Nuh Wanita Yang Durhaka ~ Allah swt mengisyaratkan kisah Nabi Nuh as dalam beberapa surah Al-Quran, diantaranya surah Al-A'raf, Yunus, Hud, Al-Anbiya, Al-Mu'minun, Al-Syu'ara, Al-Ankabut, Al-Shaffat, dan Al-Qamar. Bahkan, secara khusus Allah menamai sebuah surah dalam Al-Quran dengan nama Nuh. Hanya, dari sekian banyak ayat yang mengisahkan tentang istri Nabi Nuh, tidak ada satu pun yang menyebutkan secara langsung tentang istri Nabi Nuh, kecuali dalam satu ayat yang terdapat dalam Surah Al-Tahrim. "Allah telah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan hamba yang saleh diantara hamba-hamba Kami. Lalu, kedua istri itu mengkhianati kedua suaminya. Maka, kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah. Dan, dikatakan kepada (keduanya), "Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)!" [QS. Al-Tahrim 66 : 10] Ketika Allah mengutus Nabi Nuh as tidak...

Siapa Wali itu ? Dua Pengertian Wali

Sebenarnya siapakah wali itu? Ada dua penjelasan tentang makna wali ini. Contoh wali adalah Sunan Kalijaga, Sunan Bonang dan sebagainya. Adalah Sunan Ampel yang sudah wafat 600 tahunan masih saja banyak pengunjung di rumahnya. Pertama. kata al-wali merupakan bentuk superlatif dari subyek (fa'al), seperti kata al-alim yang bermakna sangat alim dan kata al-qadir bermakna yang sangat berkuasa. Maka kata al-wali bermakna orang yang sangat menjaga ketaatan kepada Allah SWT tanpa tercederai oleh kemaksiatan atau memberi kesempatan pada dirinya untuk berbuat maksiat. Kedua. Kata al-wali merupakan subyek bermakna obyek. Seperti kata al-qatil bermakna terbunuh dan al-jarih bermakna yang terluka. Maka kata al-wali bermakna orang yang dijaga dan dilindungi oleh Allah SWT, dijaga terus menerus dari berbagai macam maksiat dan selamanya mendapat pertolongan Allah SWT untuk selalu berbuat taat. Jadi, menurut para alim ulama, jika ditinjau dari segi etimologis, al-wali berarti yang dekat. Ketika ...